Kamis, 13 Desember 2018

cerita abal-abal


Rasa yang Bertuankan Asa
By: rahma

Tes.
Tes.
Tes.

Satu tetes. Dua tetes.Tiga tetes. Empat tetes.... dan sudah tak terhitung lagi berapa tetes air mata yang keluar dari mataku. Air mataku luruh begitu saja. Entah apa yang aku tangisi. Tapi..... rasanya sesak. Ada yang berdenyut nyeri dihatiku. Tak ada kata yang dapat terucap. Dan ternyata, rasa sakit ini bernama kecewa. Kecewa karena ada damba yang terluka dan hilang. Harapan yang mati.
Ternyata.....beginilah dampak kecewa karena perasaan.

Perasaan memang selalu rumit. Perasaan begitu pandai membuat sang perasanya kebingungan. Tapi memang perasaan itu bukan kita yang ciptakan. Dia hadir dan jatuh atas kehendaknya dan juga sang pencipta, tak bisa kita larang atau arahkan pada siapa dia harus tertambat dan menetap. Ya, serumit itulah perasaan. Terkadang kita sang pemilik rasa bingung menafsirkan rasa, apakah suka? Apakah cinta?. Dia egois, terkadang dia dengan cepat menghadirkan debar yang menggebu dan membuat sang perasa lupa bahwa terkadang rasa itu hanya fana, sesaat. Terkadang dia terlau cepat merasa sehingga ada harapan yang akhirnya teggelam. Terkadang ia menghadirkan rasa yang terlambat sehingga luka menjadi ujungnya.
Aku menangis di halte dekat kampus. Menangisi penghianatan sahabatku yang mencintai kekasihku. Dan parahnya, mereka saling mencintai dan membiarkanku seperti orang bodoh yang merasa dicintai kepalsuan.
“Perasaan itu memang selalu rumit.” Aku bermonolog.
 “Iya, lebih rumit dari matematika yang sudah pasti ada jawabannya.” Tiba-tiba seseorang bersuara di sebelahku.
“Karena perasaaan itu tidak bisa dihitung dan tidak ada rumusnya.” Aku menimpali tanpa menoleh.
“Ya, kau benar. Dia mencintai dia, dia mencintai orang lain, oranglain mencintai oranglain dan begitu seterusnya seperti garis lingkaran yang tak berujung.” Dia berbicara semakin jauh.
“Dan efek dari perasaan yang terlampau tinggi harapannya adalah kesakitan karena jatuh dan terluka diwaktu yang sama. Dan luka itu bukan fisik, tapi hati.” Aku menoleh kearahnya. “Dan kau tau?, luka terkadang membuatku jadi pendiam. Bahkan aku tak bisa berkata apapun. Dan itulah kesakitan terparahku. Begitu sakitnya hingga kata-katapun tak mampu menjelaskannya.” Aku menambahkan seraya tersenyum datar. Airmata  masih terus berderai. Berbicara mengenai luka begtu sensitif untukku. Seolah membuka cerita lama dan bahkan luka yang lalu pun belum kering. Dan kini luka baru tertoreh lagi. Bahkan, lebih dalam.
Angin berhembus membawa awan hitam. Menjadikan langit menggelap di sore ini. Sepertinya tak akan ada senja sore ini. Tak lama kemudian hujan mengguyur bumi. Menyampaikan kerinduan yang teramat sangat pada sang kekasih hati. Langit dan bumi. Kisah cinta yang romantis menurutku. Dan kini hujan menemaniku bersedih. Ahhh... selalu tentang hujan. Suara hujan yang menjadi musik alam adalah pavoritku dan aroma basah tanah karena hujan adalah pavoritnya. Ya, kami sama-sama menyukai hujan meskipun dengan alasan yang berbeda. Kini tak ada lagi dia yang menikmati hujan bersamaku. Dia memilih pergi dan meninggalkan sisa luka. Luka yang tergores begitu dalam, sehingga tak ada alasan bagiku untuk menetap. Debaran hatiku dipaksa berhenti, perasaanku telah tenggelam dan tak ada yang mampu menariknya kembali ke permukaan. Aku rapuh.
Terkadang aku ingin menjadi langit, kokoh berdiri tegak meskipun tanpa tiang. Yang sabarnya luas terbentang, tanpa batas. Yang jika marah tetap memberi keindahan dengan goresan cantiknya senja yang indah. Yang jika menangis, memberi kehidupan seperti hujan yang jatuh ke bumi. Yang jika tenggelam dalam gelap mampu menghadirkan rembulan dan berganti menjadi pagi dengan harapan baru bersama mentari yang mengiringinya.
“Masih ingin menangis di sini?” Aku mendengar ia bertanya setelah keheningan yang cukup lama.
“Ya, sepertinnya aku belum cukup puas menangis. Setidaknya sampai hujan ini reda.” Aku berkata tanpa menoleh padanya
“Baiklah. Aku di sini. Sampai hujan ini reda, sampai hujan dan awan gelap dimatamu menghilang.” Dia berkata sambil menatapku
“Jangan berlebihan. Kita tak saling mengenal. Aku bahkan tak tau namamu.” Aku menghardik. Datar.
“Bhumi Angkasa Widjaya. Itu namaku, dan cukup panggil aku ‘Bhumi’.” Dia menekankan kata Bhumi sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kearahku. Aku terpaku. Rasanya.... aku mengenal nama itu.
“Kanaya Wulandari. Cukup panggil Naya.” Aku membalas uluran tangannya.
“Kamu masih sama seperti dulu ya, Ai.” Dia tersenyum dengan sangat manis.

Deg. 

Aku terpaku.

Tidak mungkin dia. Tidak mungkin orang yang sama. Aku berusaha menyangkal kemungkinan besar yang dikatakan hatiku. Tidak. dia tidak mungkin Asa. Asa’nya Ai.
“Aku masih Asa nya Ai. Sampai detik ini aku memilih hatiku untuk dimiliki oleh Kanaya Wulandari. Ai nya Asa. Dan aku kembali.” Dia tersenyum, menggenggam tanganku seolah meyakinkan.
Dia Asa, luka lama yang masih bersarang. Luka karena debar hebat hatiku yang dipaksa berhenti. Dia Asa, yang merebut hati Ai hingga tak bersisa dan membawanya pergi. Kini dia kembali. Dengan keterlaluannya, rasaku tak bisa kupatahkan. Dia masih bertuankan Asa. Rasaku masih miliknya. Bhumi Angkasa Widjaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar