Rasa
yang Bertuankan Asa
By:
rahma
Tes.
Tes.
Tes.
Satu tetes. Dua tetes.Tiga
tetes. Empat tetes.... dan sudah tak terhitung lagi berapa tetes air mata yang
keluar dari mataku. Air mataku luruh begitu saja. Entah apa yang aku tangisi.
Tapi..... rasanya sesak. Ada yang berdenyut nyeri dihatiku. Tak ada kata yang
dapat terucap. Dan ternyata, rasa sakit ini bernama kecewa. Kecewa karena ada
damba yang terluka dan hilang. Harapan yang mati.
Ternyata.....beginilah dampak
kecewa karena perasaan.
Perasaan memang selalu rumit.
Perasaan begitu pandai membuat sang perasanya kebingungan. Tapi memang perasaan
itu bukan kita yang ciptakan. Dia hadir dan jatuh atas kehendaknya dan juga
sang pencipta, tak bisa kita larang atau arahkan pada siapa dia harus tertambat
dan menetap. Ya, serumit itulah perasaan. Terkadang kita sang pemilik rasa
bingung menafsirkan rasa, apakah suka? Apakah cinta?. Dia egois, terkadang dia
dengan cepat menghadirkan debar yang menggebu dan membuat sang perasa lupa
bahwa terkadang rasa itu hanya fana, sesaat. Terkadang dia terlau cepat merasa
sehingga ada harapan yang akhirnya teggelam. Terkadang ia menghadirkan rasa
yang terlambat sehingga luka menjadi ujungnya.
Aku menangis di halte dekat
kampus. Menangisi penghianatan sahabatku yang mencintai kekasihku. Dan
parahnya, mereka saling mencintai dan membiarkanku seperti orang bodoh yang
merasa dicintai kepalsuan.
“Perasaan itu memang selalu
rumit.” Aku bermonolog.
“Iya, lebih rumit dari matematika yang sudah
pasti ada jawabannya.” Tiba-tiba seseorang bersuara di sebelahku.
“Karena perasaaan itu tidak bisa
dihitung dan tidak ada rumusnya.” Aku menimpali tanpa menoleh.
“Ya, kau benar. Dia mencintai
dia, dia mencintai orang lain, oranglain mencintai oranglain dan begitu
seterusnya seperti garis lingkaran yang tak berujung.” Dia berbicara semakin
jauh.
“Dan efek dari perasaan yang
terlampau tinggi harapannya adalah kesakitan karena jatuh dan terluka diwaktu
yang sama. Dan luka itu bukan fisik, tapi hati.” Aku menoleh kearahnya. “Dan
kau tau?, luka terkadang membuatku jadi pendiam. Bahkan aku tak bisa berkata
apapun. Dan itulah kesakitan terparahku. Begitu sakitnya hingga kata-katapun
tak mampu menjelaskannya.” Aku menambahkan seraya tersenyum datar. Airmata masih terus berderai. Berbicara mengenai luka
begtu sensitif untukku. Seolah membuka cerita lama dan bahkan luka yang lalu
pun belum kering. Dan kini luka baru tertoreh lagi. Bahkan, lebih dalam.
Angin berhembus membawa awan
hitam. Menjadikan langit menggelap di sore ini. Sepertinya tak akan ada senja
sore ini. Tak lama kemudian hujan mengguyur bumi. Menyampaikan kerinduan yang
teramat sangat pada sang kekasih hati. Langit dan bumi. Kisah cinta yang
romantis menurutku. Dan kini hujan menemaniku bersedih. Ahhh... selalu tentang
hujan. Suara hujan yang menjadi musik alam adalah pavoritku dan aroma basah
tanah karena hujan adalah pavoritnya. Ya, kami sama-sama menyukai hujan
meskipun dengan alasan yang berbeda. Kini tak ada lagi dia yang menikmati hujan
bersamaku. Dia memilih pergi dan meninggalkan sisa luka. Luka yang tergores
begitu dalam, sehingga tak ada alasan bagiku untuk menetap. Debaran hatiku
dipaksa berhenti, perasaanku telah tenggelam dan tak ada yang mampu menariknya
kembali ke permukaan. Aku rapuh.
Terkadang aku ingin menjadi
langit, kokoh berdiri tegak meskipun tanpa tiang. Yang sabarnya luas
terbentang, tanpa batas. Yang jika marah tetap memberi keindahan dengan goresan
cantiknya senja yang indah. Yang jika menangis, memberi kehidupan seperti hujan
yang jatuh ke bumi. Yang jika tenggelam dalam gelap mampu menghadirkan rembulan
dan berganti menjadi pagi dengan harapan baru bersama mentari yang
mengiringinya.
“Masih ingin menangis di sini?”
Aku mendengar ia bertanya setelah keheningan yang cukup lama.
“Ya, sepertinnya aku belum cukup
puas menangis. Setidaknya sampai hujan ini reda.” Aku berkata tanpa menoleh
padanya
“Baiklah. Aku di sini. Sampai
hujan ini reda, sampai hujan dan awan gelap dimatamu menghilang.” Dia berkata
sambil menatapku
“Jangan berlebihan. Kita tak
saling mengenal. Aku bahkan tak tau namamu.” Aku menghardik. Datar.
“Bhumi Angkasa Widjaya. Itu
namaku, dan cukup panggil aku ‘Bhumi’.” Dia menekankan kata Bhumi sambil
tersenyum dan mengulurkan tangan kearahku. Aku terpaku. Rasanya.... aku mengenal
nama itu.
“Kanaya Wulandari. Cukup panggil
Naya.” Aku membalas uluran tangannya.
“Kamu masih sama seperti dulu
ya, Ai.” Dia tersenyum dengan sangat manis.
Deg.
Aku terpaku.
Tidak mungkin dia. Tidak mungkin
orang yang sama. Aku berusaha menyangkal kemungkinan besar yang dikatakan
hatiku. Tidak. dia tidak mungkin Asa. Asa’nya Ai.
“Aku masih Asa nya Ai. Sampai
detik ini aku memilih hatiku untuk dimiliki oleh Kanaya Wulandari. Ai nya Asa.
Dan aku kembali.” Dia tersenyum, menggenggam tanganku seolah meyakinkan.
Dia Asa, luka lama yang masih
bersarang. Luka karena debar hebat hatiku yang dipaksa berhenti. Dia Asa, yang
merebut hati Ai hingga tak bersisa dan membawanya pergi. Kini dia kembali.
Dengan keterlaluannya, rasaku tak bisa kupatahkan. Dia masih bertuankan Asa.
Rasaku masih miliknya. Bhumi Angkasa Widjaya.