Selasa, 15 November 2016

Semantik

Semantik adalah ilmu kebahasaan yang membahas tentang makna kata. Jadi dalam semantik hanya dibicarakan tentang makna kata dan perkembangan makna kata. Kata semantik berasal dari bahasa Yunani ”sema” yang artinya tanda atau lambang (sign). Kata kerjanya adalah semaino yang berarti menandai atau melambangkan. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda linguistik (signe) seperti yang dikemukakann oleh Ferdinan de Saussure yaitu:
Komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa
Komponen yang diartikan atau komponen yang pertama itu.
Jadi setiap tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan makna, keduanya merupakan unsur dalam bahasa (intralingual) yang merujuk pada hal-hal diluar bahasa (ekstralingual). Pada perkembangannya, kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa : fonologi, gramatika dan semantik (Chaer, 1994: 2). Sebagai studi linguistik, semantik tidak mempelajari makna-makna yang berhubungan dengan tanda-tanda nonlinguistik seperti bahasa bunga, bahasa warna, morse dan bahasa perangko. Hal-hal itu menjadi persoalan semiotika yang mempelajari arti dari suatu tanda atau lambang pada umumnya. Sedangkan semantik hanya mempelajari makna bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
Sebuah kata, misalnya ‘buku’, terdiri atas unsur lambang bunyi [b-u-k-u] dan konsep atau citra mental benda-benda (objek) yang dinamakan buku. Menurut Odgen dan Richards (1923), dalam karya klasik tentang “Teori Semantik Segi Tiga”, kaitan antara lambang, citra mental atau konsep, dan referen atau objek dapat dijelaskan dengan makna kata buku adalah konsep buku yang tersimpan dalam otak kita dan dilambangkan dengan kata “buku”.
Dalam analisis semantik juga harus disadari, karena bahasa itu bersifat unik, dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masalah budaya. Maka, analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tetapi tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonsia merujuk pada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan fish. Tetapi kata iwak dalam bahasa Jawa bukan hanya berarti ‘ikan’ atau ‘fish’, melainkan juga berarti daging yang digunakan sebagai lauk.

11 komentar: